Kedua orang tua saya dan seluruh keluarga besar berasal dari Yogyakarta. Tapi, itu tidak serta merta membuat saya mengakui bahwa saya orang Jawa/Jogja. Setiap kali muncul pertanyaan mengenai suku asal, saya selalu menjawab demikian: “Saya lahir dan besar di Jakarta.” Karena memang demikian adanya. Andi Lau (antara dilema dan galau), jiwa dan sikap saya sangat menolak kehidupan Jakarta, tapi saya pun juga tidak begitu dekat dengan Jogja. Saya bangga berdarah Jogja, tapi tidak cukup percaya diri mengakuinya.
Membaca Reblog Yogya membawa arti tersendiri bagi saya. Jogja, kota utopia yang saya kunjungi setidaknya setahun sekali, terasa begitu dekat kehidupannya dengan kehidupan keluarga saya. Interaksi sosialnya, falsafah hidupnya, tatanan arsitektur kehidupannya, karakter orang-orangnya. Membaca Reblog Yogya membuat kota Jogja memiliki definisi tersendiri dalam hati saya: Rumah. Saya tinggal di Jakarta, tapi rumah saya di Jogja. Reblog Jogja, bagi pembaca yang belum pernah mengenal Jogja, membuat mereka mencicipi kehidupan Jogja secara mendalam: Kopi Jos, selokan mataram, Kali Code, Burjo, hingga TransYogya. Sedangkan bagi pembaca lainnya, tulisan-tulisan di dalamnya seakan mengajak mereka untuk bernostalgia dan pulang ke kampung halaman.
Jogja bukanlah sekedar nama sebuah kota. Jogja adalah gabungan kata kerja sekaligus kata sifat, di mana jatuh dan cinta mendefinisikannya.